Syaykh Al-Zaytun
Dr. AS. Panji Gumilang dalam Khutbah ‘Ied Al-Fithri 1429 H/2008 M menegaskan
bahwa nilai-nilai dasar negara Indonesia, sepenuhnya merupakan ajaran Ilahi,
yang dapat berlaku untuk semua rakyat dan bangsa Indonesia. Nilai-nilai dasar
negara ini merupakan ideologi modern, untuk masyarakat majemuk yang modern,
yakni masyarakat Indonesia. Karenanya, menurut Syaykh yang negarawan serta
tokoh pembawa obor dan pembelajar budaya toleransi dan perdamaian, itu bahwa
nilai-nilai dasar negara Indonesia yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 itu
merupakan nilai-nilai dasar yang modern, juga menjadi ideologi yang dinamis;
dimana watak ideologi dinamis itu adalah terbuka. "Konsekuensinya, seluruh
nilai yang terkandung di dalam konstitusi/UUD negara sepenuhnya harus
berlandaskan ideologi dan nilai-nilai dasar negara tersebut," ujar
pemangku pendidikan bersifat pesantren tetapi bersistem modern itu.
Menurut
cendekiawan muslim berjiwa kebangsaan ini, tafsir daripada nilai-nilai dasar
negara yang baku sesungguhnya adalah konstitusi atau UUD negara. Karenanya,
menurut Syaykh yang banyak menginspirasi tentang kemajemukan dalam interaksi
yang interdependensi itu, UUD menjadi tidak relevan bahkan tidak valid bila
bertentangan dengan nilai-nilai dasar negara. "Karena tafsir nilai-nilai
dasar negara yang paling baku adalah konstitusi/UUD, maka jika individu,
kelompok, lembaga nonpemerintah maupun pemerintah yang bertindak, berlaku
konstitusional, maka ia adalah penjunjung dan pengamal nilai-nilai dasar
negara, harus dihormati oleh siapapun warga bangsa ini," ujarnya. Khutbah
‘Ied Al-Fithri 1429 H disampaikan Syaykh Pendiri dan Syaykh Al-Zaytun Al-Zaytun
AS Panji Gumilang DI KAMPUS Pendiri dan Syaykh Al-Zaytun Al-Zaytun, Desa Mekar
Jaya, Gantar, Indramayu pada tarikh 1 Syawwal 1429 H / 1 Oktober 2008 M yang
bertepatan dengan 1 Oktober 2008 yang pernah ditetapkan pemerintah sebagai hari
Kesaktian Pancasila (Dasar Negara Indonesia).
“Dalam
momentum ini khatib ingin memanfaatkan mimbar ini untuk menyampaikan pesan
singkat tentang makna nilai-nilai dasar negara tersebut," kata Syaykh
Pendiri dan Syaykh Al-Zaytun Al-Zaytun di hadapan ribuan jamaah yang terdiri
dari para eksponen, guru, karyawan dan santri Al-Zaytun, serta wali santri dan
masyarakat setempat. Menurutnya, pesan yang terkandung dalam lagu kebangsaan
Komponis Indonesia Raya terdapat satu diktum kalimat yang berbunyi
"Hiduplah Komponis Indonesia Raya". Negara kita Komponis Indonesia
Raya, hidup dan akan terus hidup serta tegak berdiri di atas dasar: Ketuhanan
Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, dan
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permu¬syawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan Sosial bagi
Seluruh Rakyat Indonesia. Selanjut Syaykh al-Zaytun menyampaikan pesan tentang
makna nilai-nilai dasar Negara itu. Ketuhanan Yang Maha Esa Memahami substansi
nilai-nilai dasar negara adalah menjadi hak dan kewajiban setiap warga negara.
Tatkala memahami Ketuhanan sebagai pandangan hidup ini maknanya: mewujudkan
masyarakat yang beketuhanan, yakni masyarakat yang anggotanya dijiwai oleh
semangat mencapai ridlo Tuhan / Mardlatillah, melalui perbuatan-perbuatan baik
bagi sesama manusia dan kepada seluruh makhluk. Karenanya, membangun Indonesia
berdasar Ketuhan¬an Yang Maha Esa adalah membangun masyarakat Indone¬sia yang
memiliki jiwa maupun semangat untuk mencapai ridlo Tuhan dalam setiap perbuatan
baik yang dilakukannya. Dari sudut pandang etis keagamaan, negara berdasar
Ketuhanan Yang Maha Esa itu adalah negara yang menjamin kemerdekaan tiap-tiap
penduduknya untuk memeluk agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaan
masing-masing. Dari dasar Ketuhanan Yang Maha Esa ini pula menyatakan bahwa
suatu keharusan bagi masyarakat warga Indonesia menjadi masyarakat yang beriman
kepada Tuhan, dan masyarakat yang beragama, apapun agama dan keyakinan mereka.
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Sejarah adalah wujud pengalaman manusia untuk
berperadaban dan berkebudayaan, karenanya, peradaban, politik, dan kebudayaan
adalah bagian dari pada kehidupan manusia. Kemanusiaan, sangat erat hubungannya
dengan ketuhanan. Ajaran Illahi menjadi tidak dapat diimple¬mentasikan jika
tidak wujud sikap kemanusiaan yang hakiki. Struktur pemerintahan tidak
sepenting semangat perwu¬judan kemanusiaan yang adil dan beradab yang jauh dari
pada pendendam dan egoistik / ananiyah. Demokrasi yang paling menyeluruh
sekalipun akan membawa sengsara, jika rakyat tidak memiliki sikap kemanusiaan
yang adil dan beradab / jujur, apapun sistem pemerintahan yang ditempuh, tanpa
semangat kemanusiaan yang adil dan beradab sengsara jua ujungnya. Kemanusiaan
yang adil dan beradab memerlukan kesetiaan pada diri ketika menjalani
kehidupan, kema¬nusiaan yang adil dan beradab adalah sebuah semangat dan
kegigihan mengajak masyarakat agar kembali ke pangkal jalan dan membangun
kembali revolusi bathin masing-masing, mendisiplinkan diri dengan baik, untuk
menemukan kendali dan penguasaan diri. Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah
suatu kemampuan untuk menyeimbangkan antar kemakmuran lahiriyah dengan
kehidupan ruhaniyah. Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah semangat
mempersiapkan generasi penerus yang mampu melihat lebih dari kepentingan diri
sendiri serta memiliki perspektif yang jelas untuk kemajuan masyarakatnya.
Kemanusiaan yang adil dan beradab, adalah pemben¬tukan suatu kesadaran tentang
keteraturan, sebagai asas kehidupan sebab setiap manusia mempunyai potensi
untuk menjadi manusia sempurna, yakni manusia yang berperadaban. Manusia yang berperadaban
tentunya lebih mudah menerima kebenaran dengan tulus, dan lebih mungkin untuk
mengikuti tata cara dan pola kehidupan masyarakat yang teratur, yang mengenal
hukum. Hidup dengan hukum dan peraturan adalah ciri masyarakat berperadaban dan
berkebudayaan. Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah semangat membangun
pandangan tentang kehidupan masyarakat dan alam semesta untuk mencapai
kebahagiaan dengan usaha gigih. Kemanusiaan yang adil dan beradab menimbulkan
semangat universal yang mewujudkan sikap bahwa semua bangsa dapat dan harus
hidup dalam harmoni penuh toleransi dan damai. Kemanusiaan yang adil dan
beradab akan menghantar kehidupan menjadi bermakna, karena dicapai dengan
berbakti tanpa mementingkan diri sendiri demi kebaikan bersama. Kemanusiaan
yang adil dan beradab adalah suatu sikap revitalisasi diri, untuk memupuk
dinamisme kreatif kehidupan, yang menghantarkan seseorang menjadi selalu
dinamis, selalu sensitif dan peka pada gerak perubahan dan pembaharuan.
Revitalisasi diri sebagai buah kemanusiaan yang adil dan beradab, tidak
terbatas bagi pemeluk agama tertentu siapapun dengan agama apapun dapat
melakukannya. Semakin teguh seseorang menempuh kemanusiaan yang adil dan
beradab, semakin rendah hati, dan semakin teguh keyakinannya semakin murah hati
pula. Dalam hal ini, misi tulen agama adalah untuk memupuk pembentukan sifat
dan menggalakkan usaha menguasai diri, yakni toleran dan damai. Persatuan
Indonesia Persatuan adalah gabungan yang terdiri atas beberapa bagian yang
telah bersatu. Persatuan Indonesia adalah suatu landasan hidup bangsa atau
sistem, yang selalu mementingkan silaturahim, kesetiakawanan, kesetiaan, dan
keberanian. Kehadiran Indonesia dan bangsanya di muka bumi ini bukan untuk
bersengketa. Indonesia wujud dan hidup untuk mewujudkan kasih sayang sesama
bangsa maupun antarbangsa. Persatuan Indonesia, bukan sebuah sikap maupun
pandangan dogmatik dan sempit, namun harus menjadi upaya untuk melihat diri
sendiri secara lebih objektif dengan dunia luar. Suatu upaya untuk mengimbangi
kepentingan diri dengan kepentingan bangsa lain, atau dalam tataran yang lebih
mendalam antara individu bangsa dan alam sejagad, yang merupakan suatu ciri
yang diinginkan sebagai warga dunia. Dalam jangka panjang, prinsip persatuan
Indonesia harus menjadi asas ruhaniah suatu peraturan-peraturan dan struktur
membangun satu orde antarbangsa yang adil. Persatuan Indonesia harus mampu
menanamkan pemikiran terbuka dan pandangan jauh bagi bangsa Indonesia, sebab
hanya mereka yang berpandangan jauh dan berpikiran terbuka yang dapat mendukung
aspirasi ke arah internasionalisme maupun globalisme. Persatuan Indonesia
seperti ini, akan menghantar rakyat Indonesia memiliki kebanggaan yang tulus
tentang identitas mereka sebagai warga negara maupun warga dunia. Pandangan dan
sikap seperti ini tidak akan melenyapkan ciri-ciri unggul suatu bangsa, malahan
akan dapat memantapkan ciri-ciri unik sebuah masyarakat bangsa, yakni
masyarakat bangsa yang sadar terhadap tanggung jawab global, bersatu dalam
mewujudkan persatuan universal, masing-masing menyumbangkan keistimewaannya.
Persatuan Indonesia seperti ini akan mampu menyingkirkan permusuhan internal
bangsa, sebab pencapaiannya tidak melalui kekuatan militer, melainkan melalui
tuntutan ilmu, dan peradaban yang membudaya dalam kehidupan masyarakat.
Persatuan Indonesia yang berpegang pada prinsip bahwa kemajuan kebudayaan dapat
menyamai nilai-nilai universal, sehingga dapat menjadi kekuatan yang dapat
mengangkat harkat martabat rakyat untuk menjadi warga negara dan seterusnya
warga dunia yang baik. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan Suatu landasan yang harus mampu menghantar kepada
prinsip-prinsip republikanisme, populisme, rasio¬nalis¬me, demokratisme, dan
reformisme yang diperteguh oleh semangat keterbukaan, dan usaha ke arah
kerakyatan universal. Prinsip-prinsip kerakyatan seperti ini, harus menjadi
cita-cita utama untuk membangkitkan bangsa Indonesia meyadari potensi mereka
dalam dunia modern, yakni kerakyatan yang mampu mengendalikan diri, tabah
menguasai diri, walau berada dalam kancah pergolakan hebat untuk menciptakan
perubahan dan pembaharuan. Yakni kerakyatan yang selalu memberi nafas baru
kepada bangsa dan negara dalam menciptakan suatu kehidupan yang penuh
persaingan sehat. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan adalah
kerakyatan yang dipimpin oleh pendidikan yang mumpuni. Sebab pendidikan
merupakan prasyarat untuk menyatukan rohaniah. Pendidikan adalah tonggak utama
makna daripada hikmah kebijaksanaan. Hikmah kebijaksanaan atau pendidikan akan
mewarnai kerakyatan yang penuh harmoni, toleransi dan damai, jauh daripada
sikap radikalisme apatah lagi terorisme. Hikmah kebijaksanaan atau pendidikan,
mampu menciptakan interaksi dan rangsangan interdependensi antar manusia dalam
lingkungan bangsa yang multikultural dan majemuk. Sebab manusia berpendidikan
akan selalu menghormati suatu proses dalam segala hal. Hikmah kebijaksanaan
atau pendidikan menjadi pedoman kerakyatan, sebab ia merupakan cara yang paling
lurus dan pasti, menuju kearah harmoni, toleransi dan damai. Pendidikanlah yang
memungkinkan kita selaku rakyat suatu bangsa dapat bersikap toleran atas wujud
kemajemukan bangsa. Hikmah kebijaksanaan menampilkan rakyat berfikir pada tahap
yang lebih tinggi sebagai bangsa, dan membebaskan diri daripada belenggu
pemikiran berazaskan kelompok dan aliran tertentu yang sempit. Karenanya
membangun hikmah kebijaksanaan adalah membangun pendidikan, dan itulah hakekat
membangun kerakyatan yang berperadaban yang kaya akan kebudayaan, yakni
kerakyatan yang terhindar dari saling curiga dan permusuhan. Mewujudkan Suatu
Keadilan Sosial Mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
adalah merupakan tujuan dari cita-cita bernegara dan berbangsa, menyangkut
keilmuan, keikhlasan pemi¬kiran, kelapangan hati, peradaban, kesejahteraan
keluarga, keadilan masyarakat dan kedamaian. Itu semua bermakna mewujudkan
keadaan masyarakat yang bersatu secara organik yang setiap anggotanya mempunyai
kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang serta belajar hidup pada
kemampuan aslinya. Dengan mewujudkan segala usaha yang berarti yang diarahkan
kepada potensi rakyat, memupuk perwatakan dan peningkatan kualitas rakyat,
sehingga memiliki pendirian dan moral yang tegas. Mewujudkan suatu keadilan
sosial, juga berarti mewujudkan azas masyarakat yang stabil yang ditumbuhkan
oleh warga masyarakat itu sendiri, mengarah pada terciptanya suatu sistem
teratur yang menyeluruh melalui penyempurnaan pribadi anggota masyarakat,
sehingga wujud suatu cara yang benar bagi setiap individu untuk membawa diri
dan suatu cara yang benar untuk memper¬lakukan orang lain.
Karenanya,
mewujudkan suatu keadilan harus menjadi suatu gerakan kemanusiaan yang serius,
dan sungguh-sungguh dilakukan oleh rakyat, dengan metoda dan pengorganisasian
yang jitu sehingga tujuan mulia ini tidak berbalik menjadi paradoks dan
kontradiktif yakni menjadi gerakan pemerkosaan terhadap nilai-nilai keadilan
dan kemanusiaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar