Rabu, 02 April 2014

DIN AL-ISLAM SEBAGAI TEORI PENCIPTAAN MANUSIA PSIKO ILMIAH



1. Pengkajian Obyek 
Subjek kajian dalam pembahasan Din Al-Islam (DI) ini bersifat abstrak, ia merupakan suatu alam yang dipersiapkan untuk menuju sebuah nilai. Manusia sebagai obyek yang akan diproses DI adalah merupakan organisasi nilai-nilai yang disusun secara terorganisir dari nilai-nilai yang diperolehnya dalam pengalaman hidupnya. Nilai-nilai yang membentuk kesadaran itu akan tergambar dalam setiap hubungan antara manusia dengan alam, antara lain;
a. Nilai kesadaran dalam menghadapi alam fisik,
b. Nilai kesadaran pribadi,
c. Nilai kesadaran berumah tangga,
d. Nilai kesadaran bermasyarakat,
e. Nilai kesadaran kesadaran berekonomi,
f. Nilai kesadaran berpolitik, dan lain sebagainya.
Nilai-nilai yang dimiliki manusia yang beraspek sangat banyak itu merupakan struktur-struktur yang bertingkat. Keseluruhan struktur-struktur itu berinduk pada satu struktur sentral yang menjadi pengendaliatas seluruh struktur nilai-nilai itu. Kekuatan yang mengorganisir nilai-nilai itu sebenarnya nilai-nilai juga tetapi nilai-nilai itu mempunyai daya yang terkuat. Gaya itulah yang mengatur seluruh nilai-nilai yang dimiliki oleh manusia. 
2. Din Al-Islam Sebagai System Nilai.
Din Al-Islam adalah satu sistem nilai yang merupakan kekuatan untuk menciptakan manusia sebagai makhluk ilmiah. Sistem itu terdiri dari seperangkat nilai-nilai yang dijadikan sebagai landasan penciptaan.
-            Perangkat pertama untuk penciptaan manusia sebagai makhluk psiko ilmiah diletakkan diatas enam prinsip keilmuan yang kita kenal dengan Arkan Al-Iman. Inilah prinsip kerja yang pertama dalam penciptaan manusia menjadi makhluk psiko ilmiah. Iman juga memuat prinsip yang dijadikan sebagai tujuan penciptaan, karena iman merupakan landasan bagi penciptaan itu.
-            Perangkat kedua yang dijadikan prinsip penciptaan dan juga berfungsi sebagai perangkat pembangun adalah yang kita kenal dengan kalimat Arkan Al-Islam yang terdiri dari lima prinsip tekhnik pembinaan.
-            Yang ketiga adalah prinsip-prinsip yang dijadikan sebagai perwujudan dari struktur makhluk yang diciptakan itu. Wujud struktur manusia sebagai makhluk yang ilmiah itu digambarkan dengan wujud mekanisme ‘Ilmu’ pada setiap alam, atau wujud dari pembuktian ilmu pada seluruh alam yang merupakan identitas dari proses kerja ilmu. Karena manusia adalah makhluk ruhani yang dibangun dari komponen-komponen ‘Ilmu’ tadi. Dan yang keempat yang merupakan prinsip-prinsip yang memuat tentang proses yang dijadikan tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam penciptaan manusia sebagai makhluk ilmu. Seperti layaknya penciptaan manusia sebagai makhluk biologis, maka diperlukan proses-proses itu, maka akan dihasilkan manusia yang lain, yang lebih berfikir ilmiah dari sebelumnya setelah proses-proses itu dilaksanakan tahap demi tahap. Tentang fase-fase dan pengertiannya nanti dibahas dalam artikel lanjutannya. Insya Allah.

Aktifitas

Aktifitas
Istana Beras Mahad Al Zaytun